Waspada banjir rob dan nikmati gerhana bulan langka - Koranmu Kaltara
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Waspada banjir rob dan nikmati gerhana bulan langka

Waspada banjir rob dan nikmati gerhana bulan langka

Petugas melakukan uji coba peralatan teleskop yang akan digunakan untuk mengamati gerhana bulan total di Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadi…

Waspada banjir rob dan nikmati gerhana bulan langka

Petugas melakukan uji coba peralatan teleskop yang akan digunakan untuk mengamati gerhana bulan total di Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), di Medan, Sumatera Utara, Selasa (30/1).
Petugas melakukan uji coba peralatan teleskop yang akan digunakan untuk mengamati gerhana bulan total di Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), di Medan, Sumatera Utara, Selasa (30/1). | Septianda Perdana /Antara Foto

Masyarakat Indonesia akan menyaksikan fenomena langka berupa gerhana bulan total yang bersamaan dengan fenomena super moon dan blue moon pada hari ini, Rabu (31/1/2018). Di balik peristiwa langka di langit yan g disebut super blue blood moon itu, muncul potensi banjir pasang di sejumlah wilayah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat tetap waspada adanya rob alias banjir akibat laut pasang sebagai pengaruh gerhana bulan dan super blue blood moon itu. Tinggi pasang maksimun hingga mencapai 1,5 meter karena adanya gravitasi bulan dengan matahari.

"Tinggi pasang maksimum akan berdampak pada terganggunya transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di Pelabuhan," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati melalui keterangan tertulisnya.

Gelombang tinggi 4 - 6 meter berpeluang terjadi di Samudera Hindia Selatan Jawa hingga NTT, Perairan Selatan P. Sumba-P. Sawu-P. Rote-Laut Timor, dan Laut Arafuru.

Sementara tinggi gelombang 2,5 sampai 4 meter berpeluang terjadi di Perairan Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda Bagian Selatan, Perairan Selatan J awa, Perairan Kep. Sermata-Leti, Perairan Kep. Babar-Tanimbar.

Fenomena gerhana dan super blue blood moon juga dapat mengakibatkan surut minimum mencapai minus 100 sampai 110 sentimeter yang terjadi pada 30 Januari-1 Februari 2018. Surut minimun dapat terjadi di pesisir Sumatera Utara, Barat, Sumatera Barat, Selatan Lampung, utara Jakarta, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

Berdasarkan analisis BMKG, potensi hujan dengan intensitas sedang-lebat pada 29 Januari sampai 3 Februari masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia.

BMKG mengingatkan adanya potensi hujan dan angin dengan kecepatan tinggi di wilayah Aceh, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi selatan, Papua Barat, dan Papua.

BMKG mengingatkan hujan lebat disertai angin kencang dapat membahayakan kapal berukuran kecil. Untuk itu, BMKG meminta agar masyar akat menunda Menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda.

Gerhana bulan tak berbahaya

Fenomena super moon terjadi ketika purnama bulan berada dalam jarak terdekatnya dengan bumi sehingga ukuran bulan ini menjadi 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang daripada biasanya. Adapun blue moon adalah bulan purnama yang terjadi dua kali dalam satu bulan kalender.

Ketika super moon dan blue moon berlansung, bayangan bumi menutupi bulan. Cahaya Matahari oleh Bumi sehingga cahayanya tidak sampai ke Bulan. Gerhana bulan total terjadi ketika posisi matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus.

Gerhana bulan total tidak berbahaya. Masyarakat dapat menyaksikan langsung gerhana bulan dengan mata telanjang, binokular, atau teleskop.

Gerhana bulan terjadi dengan durasi 1 jam 16 menit. Awal gerhana parsial terjadi pada 18:48 WIB, awal gerhana total terjadi pada 19:52 WIB, dan puncak gerhana terjadi pada 20:30 WIB . Akhir totalitas terjadi pada 21:08 WIB dan akhir gerhana terjadi pada parsial 22:11 WIB.

Kejadian gerhana bulan total dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia. Fenomena ini merupakan fenomena langka karena akan terulang lebih dari 100 tahun untuk di Amerika, sementara wilayah Indonesia 36 tahun (30-31 Desember 1982).

"Masyarakat diharapkan melihat atau mengamati fenomena ini dan bukan dijadikan sesuatu yang menakutkan," kata Dwikorita.

Pengamatan fenomena bulan dapat dilihat secara ideal dari daerah perbatasan mulai dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga daerah yang berada di sebelah barat Sumatera, yaitu melintas di Samudera Hindia yang berada sebelah barat Sumatera yang merupakan zona bulan terbit saat fase gerhana penumbra berlangsung.

Lokasi lain yang ideal untuk mengamati fenomena ini di Observatorium Boscha (Lembang), Pulau Seribu, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Planetarium, Museum Fatahilah, Kampung Betawi, Satu Babakan, serta Bukit Tinggi. Pengamatan juga dapat dilakukan di 21 titik pengamatan hilal.

Sumber: Google News | Koranmu Kalimantan Utara

Tidak ada komentar